Angka yang jarang dilihat orang
Saat membuka sebuah produk, Anda melihat sesuatu seperti ini:Nilai persediaan sekarang: Rp367.500Kebanyakan pemilik toko membacanya sebagai “sisa 15 botol”. Baca ulang seperti ini:
Rp367.500 uang saya ada di rak, belum jadi uang lagi.
Kenapa ini penting
Yang Anda cari bukan angka sebesar-besarnya atau sekecil-kecilnya, tapi stok yang cepat berubah jadi uang lagi.
Berapa lama uang Anda kembali?
Uang yang Anda pakai belanja barang tidak hilang, cuma pergi sebentar. Pertanyaannya: sebentar itu berapa lama? Anda cuma butuh dua angka.1
Lihat nilai persediaan Anda sekarang
Total modal yang sedang ada di rak dan gudang. Anggap Rp50.000.000.
2
Lihat modal barang yang terjual bulan lalu
Perhatikan: modalnya, bukan omzetnya. Anggap Rp25.000.000.
3
Bagi angka pertama dengan angka kedua
Rp50.000.000 ÷ Rp25.000.000 = 2. Artinya stok Anda cukup untuk 2 bulan jualan.
4
Kalikan 30 hari
2 × 30 = 60 hari. Inilah jawabannya: uang yang Anda belanjakan hari ini baru kembali jadi uang sekitar 60 hari lagi.
Makin kecil angkanya, makin sehat. Uang yang cepat kembali bisa dipakai belanja lagi, bayar gaji, atau buka cabang. Uang yang lama kembali cuma jadi tumpukan barang.
Angka Anda masuk yang mana?
Menemukan modal yang nyangkut
Barang yang tidak terjual 60–90 hari disebut dead stock: modal yang berhenti bekerja. Makin lama menumpuk, makin besar kemungkinan akhirnya dijual rugi atau dibuang. Kalau produk Anda memakai metode FIFO, rincian lapisan harga menunjukkan umur tiap lapisan, jadi Anda bisa melihat persis modal mana yang paling lama tertahan.
Kolom UMUR menunjukkan berapa lama modal di lapisan itu belum kembali.
Laporan Stok Mati
Anda tidak perlu mencarinya satu per satu. Simplus punya laporan khusus yang langsung menunjukkan berapa rupiah modal Anda yang sedang diam. Buka Laporan → Telusuri, lalu di kelompok Stok pilih Stok Mati.
Laporan Stok Mati menunjukkan total modal yang sedang diam, beserta produk penyebabnya.
Hitungan lamanya diam dimulai dari penjualan terakhir, bukan dari tanggal restok. Jadi merestok barang yang tidak laku tidak akan menyembunyikannya dari laporan ini.
Yang bisa Anda lakukan minggu ini
1
Lihat total nilai persediaan Anda
Bandingkan dengan saldo kas. Kalau nilai persediaan jauh lebih besar, uang Anda memang sedang tertahan di barang.
2
Cari produk dengan nilai terbesar
Ekspor daftar produk, lalu urutkan dari nilai persediaan terbesar. Ini produk yang paling banyak memakan modal Anda, belum tentu yang paling laku.
3
Buka laporan Stok Mati
Laporan → Telusuri → Stok → Stok Mati, pilih ambang ≥60 hari. Barang yang muncul di situ perlu keputusan: diskon, bundling, atau stop restok.
4
Kurangi restok untuk barang lambat
Alihkan uangnya ke produk yang cepat laku.
Bagaimana Simplus bisa membantu
Di pembukuan manual, nilai persediaan baru ketahuan saat stok opname besar-besaran, itu pun hanya sekali setahun. Simplus menghitungnya terus-menerus dari HPP dan sisa stok setiap produk.Nilai per produk selalu terbarui
Setiap produk menunjukkan nilai persediaannya sendiri, ikut bergerak setiap kali ada restok, penjualan, atau opname.
Laporan Stok Mati
Laporan → Telusuri → Stok → Stok Mati langsung memberi satu angka: berapa rupiah modal Anda yang sedang diam, beserta produk penyebabnya.
Ambang batas yang bisa dipilih
Tentukan sendiri definisi stok mati: ≥30, ≥60, atau ≥90 hari, lalu urutkan dari modal tertahan terbesar.
Umur lapisan harga FIFO
Untuk produk FIFO, rincian lapisan harga menunjukkan umur tiap lapisan, jadi terlihat persis modal mana yang paling lama tertahan.
Persediaan dihitung per bisnis, bukan per outlet. Laporan Stok Mati dan nilai persediaan menampilkan angka gabungan seluruh outlet Anda, jadi belum bisa disaring per outlet.
Yang belum tersedia
Langkah berikutnya
Produk terlaris belum tentu paling untung
Pastikan modal Anda ditaruh di produk yang benar.
Untung tapi uang tidak nambah
Kenapa laba di laporan tidak terasa di rekening.
