Markup dan margin: bedanya mahal
Keduanya sama-sama berarti “untung sekian persen”. Bedanya cuma satu: persen dari apa.- Markup dihitung dari modal. “Modal Rp20.000, saya naikkan 50%.”
- Margin dihitung dari harga jual. “Dari Rp30.000 yang dibayar pelanggan, sekian persen jadi untung saya.”
Satu contoh, dua angka
Anda beli barang Rp20.000, lalu jual Rp30.000. Untung Anda Rp10.000.
Uang yang masuk ke laci tetap Rp10.000. Yang berbeda cuma cara menyebutnya. Dan karena harga jual selalu lebih besar dari modal, markup selalu terdengar lebih besar dari margin untuk untung yang sama persis.
Cara aman: bagi, jangan kali
Kuncinya: margin 30% itu bicara soal harga jual, bukan soal modal. Kalau 30% dari harga jual adalah untung Anda, berarti sisanya, 70%, adalah modal. Jadi modal Rp20.000 itu setara 70% dari harga jual yang Anda cari. Tinggal dibalik: kalau Rp20.000 adalah 70%-nya, maka 100%-nya adalah Rp20.000 ÷ 0,7.
Cek: untung Rp8.600 dari harga jual Rp28.600 = 30%. Pas.
Dari sinilah angka 1,43 itu datang. Membagi dengan 0,7 sama saja dengan mengali 1,43, karena 1 ÷ 0,7 = 1,43. Jadi “modal dikali 1,43” cuma jalan pintas dari “modal dibagi 0,7”. Dua-duanya hitungan yang sama.
Tabel pengali: pakai ini kalau tidak mau menghitung
Tiap target margin punya pengalinya sendiri, dan semuanya dibuat dengan cara yang sama seperti di atas. Kolom tengah menunjukkan asal angkanya, jadi Anda bisa mengeceknya sendiri:
Angka di kolom tengah selalu 100% dikurangi target margin Anda. Target margin 40% → sisa 60% untuk modal → 1 ÷ 0,6 = 1,67.
Bandingkan dengan kalau Anda mengali 1,4 untuk target 40%: hasilnya cuma Rp28.000. Selisih Rp5.500 per barang, hanya karena salah pakai cara hitung.
Kalau Anda sudah terbiasa memakai pengali tertentu, tabel ini menunjukkan margin aslinya:
Rumusnya, kalau Anda ingin menghitung sendiri
Rumusnya, kalau Anda ingin menghitung sendiri
Biaya yang sering lupa dihitung
Margin di atas kertas sering hilang di biaya-biaya ini. Hitung dulu sebelum menetapkan harga:Contoh hitungan lengkap
Produk dengan HPP Rp20.000 dijual Rp33.500 di marketplace:
Margin yang Anda kira 40% ternyata 16,3%. Inilah kenapa harga untuk channel online biasanya perlu lebih tinggi daripada harga di toko.
Harga berbeda per channel itu wajar dan sehat. Yang tidak sehat adalah memakai satu harga untuk semua channel padahal biayanya berbeda jauh.
Kapan harga perlu ditinjau ulang
- HPP naik. Supplier menaikkan harga, tapi harga jual Anda masih yang lama. Margin terkikis diam-diam.
- Margin di bawah target. Bandingkan margin nyata dengan target Anda, per produk.
- Mau kasih diskon. Ketahui dulu batas bawahnya. Lihat Batas bawah harga sebelum kasih diskon.
Bagaimana Simplus bisa membantu
Anda tidak perlu menghitung margin satu per satu di spreadsheet. Simplus sudah punya HPP tiap produk, jadi begitu harga jual diisi, marginnya langsung kelihatan.Margin per produk dihitung otomatis
Buka Laporan → Penjualan → Per Produk. Untuk tiap SKU Anda melihat harga jual, HPP, dan margin berdampingan:
Laporan Penjualan per Produk: harga jual, HPP, margin, dan untung dalam satu tabel.
Di bagian atas ada ringkasan total untung kotor, omzet, dan margin rata-rata seluruh produk. Itu angka pembanding cepat: produk yang margin-nya di bawah rata-rata layak ditinjau ulang harganya.
Tingkatan harga mengubah margin secara langsung
Tingkatan harga menentukan harga jual mana yang dipakai saat transaksi, Retail, Member, dan (segera) Wholesale serta Grosir. Karena harga jual yang terpakai ikut menentukan omzet, dan omzet menentukan margin, tiap tingkatan harga otomatis menghasilkan margin yang berbeda. Contoh produk dengan HPP Rp20.000:Coming Soon Peringatan otomatis saat harga jual diisi di bawah HPP, pengisian harga jual langsung dari target margin atau markup, serta alat bantu penghitung potongan channel (komisi marketplace, iklan, ongkir), belum tersedia. Untuk sekarang, pakai tabel pengali di atas untuk menentukan angkanya, lalu isi harga jual secara manual di form produk.
Langkah berikutnya
Produk terlaris belum tentu paling untung
Cari tahu produk mana yang benar-benar menghasilkan.
Batas bawah harga sebelum kasih diskon
Sampai berapa diskon masih aman diberikan.
