Skip to main content
HPP (Harga Pokok Penjualan) atau COGS adalah modal barang yang Anda jual. Angka ini yang menentukan Anda untung berapa, bukan omzet.

Untung itu datang dari margin

Bayangkan Anda punya toko retail. Anda beli barang dari supplier, lalu jual lagi lebih mahal. Selisihnya disebut margin. Dari situlah untung Anda datang.
Omzet besar belum tentu untung. Kalau Anda jual 100 barang seharga Rp30.000 (omzet Rp3.000.000) tapi modalnya ternyata Rp28.000 per barang, untung Anda cuma Rp200.000. Tanpa HPP yang benar, Anda tidak akan pernah tahu ini.

Kenapa banyak bisnis salah hitung?

Kebanyakan bisnis cuma lihat cash flow: uang masuk banyak, berarti aman. Padahal uang masuk bukan untung. Akibatnya omzet naik terus, tapi bisnis tidak tumbuh. Masalahnya: menghitung HPP itu ribet. Harga supplier naik-turun. Barang yang sama bisa Anda beli dengan harga berbeda di bulan berbeda. Contohnya, satu produk yang sama Anda restok dua kali: Sekarang ada pelanggan beli 12 pcs. Modal 12 pcs itu berapa? Rp20.000-an, Rp25.000-an, atau campuran? Karena ribet, banyak bisnis pakai cara asal: input harga beli manual, satu angka untuk selamanya. Hasilnya laporan untung-rugi yang salah. Jawabannya tergantung metode yang Anda pakai: FIFO atau Rata-Rata.

Dua metode HPP

FIFO

Barang yang masuk duluan, keluar duluan. Cocok untuk barang kadaluwarsa: obat, makanan, minuman, kosmetik.

Rata-Rata

Semua modal dicampur jadi satu harga rata-rata. Cocok untuk barang tanpa kadaluwarsa: apparel, sepatu, aksesori, elektronik.

FIFO (First In, First Out)

Barang disusun jadi lapisan sesuai urutan masuk. Saat ada penjualan, stok diambil dari lapisan paling tua dulu, dengan harga beli lapisan itu. Anggap Anda jual 12 pcs dari contoh di atas: Lapisan 1 habis. Sisa stok Anda 8 pcs, semuanya di lapisan 2 dengan HPP Rp25.000.

Kelebihan

  • Anda bisa lihat lapisan barang: sisa stok ini dari restok kapan, umurnya berapa hari, dan belinya berapa.
  • Barang lama terjual duluan, risiko kadaluwarsa kecil.
  • Laporan untung-rugi paling akurat.

Kekurangan

  • Tracking lebih detail, satu produk bisa punya banyak lapisan.
  • HPP berubah tiap kali lapisan habis, jadi margin terlihat naik-turun.

Rata-Rata (Average)

Semua modal dicampur, lalu dibagi jumlah stok. Tidak ada lapisan, cuma satu angka HPP. Jual 12 pcs? Modalnya 12 × Rp22.500 = Rp270.000. Selesai. HPP baru berubah kalau ada barang masuk di harga berbeda.

Kelebihan

  • Jauh lebih simpel, cuma satu angka HPP per produk.
  • Margin stabil, tidak naik-turun tiap transaksi.

Kekurangan

  • Tidak bisa lihat lapisan barang.
  • Tidak bisa tahu sisa stok berasal dari restok yang mana.

Pilih yang mana?

Bingung? Kalau barang Anda bisa basi atau kadaluwarsa, pilih FIFO. Selain itu, pilih Rata-Rata.

Simplus menghitungnya untuk Anda

Anda tidak perlu catat manual. Simplus menghitung HPP otomatis setiap ada restok, penjualan, retur, dan penyesuaian stok, lalu menyimpan riwayatnya supaya bisa Anda telusuri.
Setiap baris menampilkan sisa stok, nilai persediaan, dan HPP setelah transaksi itu. HPP hanya bergerak saat ada barang masuk di harga berbeda.
Riwayat perhitungan HPP metode Rata-Rata di Simplus

Riwayat HPP metode Rata-Rata pada satu produk.

Nilai persediaan dan HPP dihitung per produk untuk seluruh bisnis. Stok tetap bisa Anda lihat per outlet, tapi harga pokoknya satu untuk semua outlet.
Satu hal yang bisa merusak semuanya: stok minus. Kalau kasir bisa menjual barang yang stoknya sudah nol, Simplus terpaksa menghitung modal untuk barang yang tidak ada, dan HPP Anda bisa melompat atau jadi minus. Matikan setelan Jual Stok Habis untuk mencegahnya. Lihat Kenapa HPP saya berubah?

Langkah berikutnya

Menentukan harga jual dari HPP

Ubah HPP jadi harga jual yang benar-benar untung.

Mengatur metode HPP

Pilih FIFO atau Rata-Rata untuk produk Anda.

Nilai persediaan

Berapa banyak uang Anda yang sedang tidur di stok.

Kenapa HPP saya berubah?

Penyebab HPP bergerak dan cara membaca riwayatnya.